Skip to main content

Semangka Menjadi Pelengkap Foto Instagram dan Lambang Musim Panas oleh - sabunmukaponds.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sabunmukaponds.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Semangka Menjadi Pelengkap Foto Instagram dan Lambang Musim Panas oleh - sabunmukaponds.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membacaAda dua alasan mengapa orang senang memposting menu makan sehatnya di Instagram. Pertama: tentu saja untuk mengampanyekan pola hidup sehat. Kedua: makanan tersebut bila difoto sungguh insta worthy. Salah satunya adalah semangka. Buah sekaligus sayuran ini sangat populer di musim panas. Negara-negara yang menganut empat musim umumnya akrab dengan semangka. Namun sebenarnya semangka bukan berasal dari negara yang menganut empat musim. Semangka berasal dari wilayah gurun di Benua Afrika.Semangka tumbuh secara liar di selatan Benua Afrika hingga kini. Buah yang 92%-nya terdiri dari air ini merupakan salah satu makanan penting bagi berbagai suku di sana. Salah satunya adalah Suku Kalahari. Sebab, semang…

Cantik Ideal adalah Putih, Bagaimana Media Memproduksinya? oleh - sabunmukaponds.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sabunmukaponds.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Cantik Ideal adalah Putih, Bagaimana Media Memproduksinya? oleh - sabunmukaponds.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Memiliki kulit putih untuk banyak orang adalah idaman. Tidak sedikit dari mereka yang melakukan segala cara untuk mendapatkan warna kulit yang masyarakat mainstream idam-idamkan ini.

Bagaimana pandangan masyarakat tentang kulit putih ini, tidak lepas dari peran media massa. Media massa sebagai medium informasi, edukasi, juga hiburan menjadi tidak terpisahkan dari kehidupan keseharian masyarakat sampai hari ini. Apalagi dengan kemajuan internet, relasi manusia dengan media dan informasi menjadi jauh lebih intens dan tentu kompleks dari waktu ke waktu.

Relasi yang intens inilah yang memungkinkan persebaran informasi menjadi lebih mudah dan masif. Dennis McQuail dalam buku McQuail’s Reader in Mass Communication Theory (2004) menegaskan bahwa komunikasi yang berlangsung di media massa mampu menghadirkan publiknya sendiri, memunculkan kesepakatan atas pandangan dan keyakinan tertentu, mengarahkan perilaku khalayak, menggiring politik massa dan berbagai hal yang mengarah pada terbentuknya masyarakat massa.

Dengan relasi intens dan kemampuan media massa pada level tertentu ini, membuat padangan mainstream tentang kulit putih sebagai kulit yang ideal mengamini fakta bahwa sedikit banyak pandangan ini dipengaruhi oleh media massa.

Media dalam kehadirannya, tentu bukan entitas yang bebas nilai. Sebagai industri, media mengusung penuh motivasi dan kebutuhan para pelaku industri di belakangnya. Olehnya, segala yang ditampilkan dalam bentuk audio maupun visual akan selalu disesuaikan dengan tujuan industri. Lantas bagaimana relasinya dengan pandangan kulit putih sebagai yang ideal untuk masyarakat? Iklan produk pemutih memegang andil besar dalam hal ini.

Baca Juga: Sejarah Kosmetik dan Konsep Kecantikan dari Berbagai Bangsa

Media adalah industri yang salah satu nyawanya adalah iklan, maka ruang untuk iklan bekerja akan diberikan secara luas oleh media. Dan karena iklan tentu saja dibuat untuk semaksimal mungkin menarik perhatian dan mencuri keputusan khalayak agar memilih produk tertentu, maka segala cara akan dilakukan. Termasuk dengan melakukan exposure berlebihan terhadap waktu penayangan iklan di media hingga pada menampilkan eksploitasi pada tubuh perempuan.

Sejak dulu kala, iklan produk pemutih dengan menampilkan orang-orang berkulit putih yang senantiasa mendapat “kemewahan” seringkali ditampilkan. Exposure yang terus menerus secara waktu dan inovasi inilah yang bekerja untuk mendikte pandangan masyarakat tentang betapa cantiknya menjadi putih itu.

Cara inilah yang seringkali digunakan untuk meraih ketertarikan massa untuk meraup keuntungan yang tentu saja adalah tujuan industri. Hal lain yang juga berelasi pada bagaimana konsep tentang cantik dan putih itu terbangun adalah orang-orang yang bekerja di belakang media.

Baca Juga: Trend Skincare Millennial

Telah menjadi tren sejak pertengahan dekade 90an bahkan hingga di banyak media hari ini, mayoritas orang yang bekerja di media khususnya yang mengemban tanggung jawab teknis adalah mayoritas laki-laki. Sehingga bukan hal yang mengherankan jika media dan konten-kontennya dibuat berdasar pada gagasan dan harapan laki-laki.

Putih di Masa Kolonial

Buku Putih “Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional” yang ditulis oleh L. Ayu Saraswati (2019) menjelaskan akar perspektif cantik ideal, salah satunya hingga ke masa pemerintahan presiden Soekarno, saat Indonesia baru saja merdeka pada rentang waktu 1945 hingga 1965.

Soekarno adalah pemimpin yang cukup kekeuh pada sikapnya yang anti-Barat dalam banyak hal, termasuk persoalan ras dan gender (pada taraf tertentu). Hal ini dapat dikaitkan dengan jumlah iklan produk pemutih yang lebih sedikit dibandingkan dengan era Soeharto, apalagi era Jokowi.

Salah satu dari sedikit iklan yang dimaksudkan adalah iklan yang diterbitkan di majalah perempuan berbahasa Belanda dan diedarkan di Indonesia pada tahun 1955, De Huisvrouw. Kebanyakan iklan tidak menggunakan diksi “putih” secara eksplisit untuk mendeskripsikan hasil akhir yang “dijual”, melainkan mengantinya dengan kata “bersinar terang” atau “bercahaya terang”.

Cantik itu putih perempuan

Pantjawarna August 1963. A Collection of Kemal Atmojo

Namun, meski “putih” tidak terlalu banyak “dijual” di iklan-iklan di media massa kala itu, kulit terang ataupun cerah masih merupakan harapan yang dibentuk dan diinginkan sejak era Soekarno.

Di majalah De Huisvrouw dan Majalah Pantjawarna yang berbahasa Indonesia pun, perempuan digambarkan dan diwakilkan oleh perempuan Indo atau bahkan Kaukasia (seperti Eropa dan Arab dengan hidung mancung). Hal ini terlihat dengan jelas, karena di era Soekarno, iklan di media telah ditampilkan dengan foto hitam putih. Sehingga, akan tampak dengan jelas kemana afiliasi putih dan cantik tertuju.

Baca Juga: Haruskah Kita Berhenti Memutihkan Kulit?

Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya narasi tentang kulit terang dan/atau putih telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Cara pandang yang diadopsi oleh masyarakat kebanyakan hari ini telah diakomodasi oleh media menurut pada perkembangan zaman. Dan berkaca pada sikap Soekarno, apa yang ditampilkan media juga tidak lepas dari iklim dan sikap politik pemimpin yang memegang masanya.

Itulah tadi informasi mengenai Cantik Ideal adalah Putih, Bagaimana Media Memproduksinya? oleh - sabunmukaponds.xyz dan sekianlah artikel dari kami sabunmukaponds.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Comments

Popular posts from this blog

Gender Bender: Tak Sekadar Konsep Dorama dan Manga oleh - sabunmukaponds.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sabunmukaponds.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Gender Bender: Tak Sekadar Konsep Dorama dan Manga oleh - sabunmukaponds.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membacaKita mengenal beragam genre dari dorama maupun manga. Salah satunya adalah Gender bender. Konsepnya adalah lelaki atau perempuan yang berpakaian atau berperilaku tidak seperti gendernya.Gender bender merupakan bagian dari mendobrak kultur. Namun pemaknaan gender bender tidaklah sesederhana itu. Gender bender tidak hanya milik pop culture saja. Ini adalah sebuah sejarah dan budaya di Jepang. Konsep yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan tak hanya menyangkut dunia hiburan semata.Gender bender juga meliputi tentang cinta dan pencarian jati diri anak muda di Jepang. Bagaimana konsep ini telah hidup sedemikian rupa di tengah masyarakat?SejarahDi masa pra-modern Jepang, ketika samurai dan shogun masih hidup, h…